Apa Respons Dari BEI Untuk Morgan Stanley Dengan Skor Underweight ke Saham Indonesia

Manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) merespon langkah Morgan Stanley yang menurunkan anjuran saham-saham di Indonesia menjadi underweight.

Direktur Perdagangan dan Pembatasan Member Bursa BEI Irvan Susandy memandang dua hal yang disorot Morgan Stanley. Pertama, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) kepada rupiah. Kedua, dilema kebijakan fiskal merupakan unsur utama penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), padahal IHSG cuma turun 0,08 persen pada perdagangan Rabu, 12 Juni 2024.

“Penguatan dolar Amerika Serikat tidak cuma terjadi kepada rupiah saja, beberapa mata uang negara lain juga mengalami penurunan,” ujar Irvan, Kamis (13/6/2024).

Dia menambahkan, dari segi dilema kebijakan fiskal, menurut Kementerian Keuangan hingga akhir April 2024, posisi utang Indonesia menempuh Rp 8.338,43 triliun diperbandingkan dengan rasio utang kepada produk domestik bruto (PDB) sebesar 38,64 persen.

“Rasio utang ini mengalami penurunan diperbandingkan akhir 2023 merupakan sebesar 38,98 persen serta masih di bawah ambang batas merupakan 60 persen dari PDB sesuai undang-undang,” ujar ia.

Untuk menyokong pasar modal Indonesia makin menarik, Irvan menuturkan, pihaknya sedang dalam pengerjaan siapkan beberapa hal baru yang akan diluncurkan pada 2024. Hal itu antara lain short selling, single stock futures, dan put warrant atau waran terstruktur . “Kami berharap ini bisa menambah alternatif instrument trading bagi investor,” ujar ia.

Sebelumnya, Morgan Stanley memandang kebijakan slot spaceman fiskal Indonesia dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menimbulkan risiko kepada investasi saham di Indonesia.

Seiring hal itu, Morgan Stanley menurunkan anjuran saham-saham Indonesia menjadi underweight dalam portofolio di pasar Asia dan negara berkembang.

Langkah Morgan Stanley

“Kami memandang ketidakpastian rentang pendek mengenai arah kebijakan fiskal di masa depan serta beberapa kelemahan di pasar valuta asing di tengah masih tingginya suku bunga Amerika Serikat dan prospek dolar AS yang menguat,” tulis Analis Morgan Stanley Daniel Blake dalam catatannya, 10 Juni 2024 seperti dikutip dari Yahoo Finance, Rabu, 12 Juni 2024.

“Sementara prospek pendapatan Indonesia juga memburuk,” Morgan Stanley menambahkan.

Perubahan sikap Morgan Stanley terjadi saat dolar AS mulai memperlihatkan popularitas lebih tinggi menjelang keputusan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat pada Rabu minggu ini dan keputusan Bank Indonesia pada minggu depan.

Adapun kalau suatu saham diukur sebagai underweight, diprediksi pengembalian saham tersebut lebih rendah dari saham lain di sektor industrinya.

“Peringkat saham underweight merupakan opini analis keuangan, saham tersebut akan berkinerja buruk di antara sektornya atau dalam indeks, lazimnya selama 6 bulan hingga 12 bulan ke depan,” demikian mengutip dari yahoo finance.

Kecuali itu, underweight juga berarti manajer investasi tidak bullish pada aset saham di wilayah tersebut.